Jumat, 24 Agustus 2012

Sebuah catatan untukmu Indonesiaku

Patutkah untuk dibanggakan negeri ini disaat korupsi merajalela?
Patutkah untuk dibanggakan negeri ini bila ekonomi tergantung dari impor?
Patutkah dibanggakan negeri ini bila olahraga tidak lagi menjadi prestasi?
Patutkah dibanggakan negeri ini bila orang kecil masih tersiksa dengan hukum, sedangkan orang besar kebal terhadapnya?
Patutkah dibanggakan bila semua pemimpinnya hanya mementingkan perutnya dari pada perut rakyatnya?
Oh Indonesia. Sampai kapankah semua ini akan trus berlanjut? Tidakkah kau bosan atau lelah dengan semua ini? Tidakkah kau malu dengan teman2mu yang sudah maju? Tidakkah kau berusaha untuk memperbaiki dirimu? Kau bagaikan zambrud ditengah hamparan lautan biru yang luas. Tapi sayang, manusia2 yang menuntunmu adalah binatang ternak borokan yang hanya mementingkan dirinya sendiri dari pada rakyatnya yang terus menderita karena mereka. Bahkan mereka lebih hina daripada babi berkudis, karena tega memakan harta orang lain. 


Sampai kapankah cahaya kegelapan ini berlanjut? Hai orang2 yang waras, dan tidak sombong. Cepatlah kau ambil ahli roda pemerintahan di negeri ini. Semoga akan ada perubahan.

Pantaskah aku tinggal di negeri orang?

Brunei Darussallam. Iya. Negeri yang menurutku mempunyai 1001 lampion. Negeri yang terletak di ujung Borneo yang terkenal akan hutan tropisnnya.
Terbersit rasa ingin yang dalam untuk mengunjungi negeri kecil itu. Kecil memang, tapi semua rakyatnya hidup sejahtera dan aman. Dan jika dibandingkan dengan negeriku Aceh, Brunei hanya seluas kabupaten Aceh Tengah. Dan jika dibandingkan dengan negeri keduaku Indonesia mungkin Brunei hanya setitik tahi lalat yang ada di tubuh seorang manusia. Tidak. Bukan itu. Aku tidak ingin membanding-bandingkan terlalu jauh. Jika kita menarik waktu beberapa ratus tahun yang lalu, Aceh Darussalam sebuah kerajaan Islam besar di Asia Tenggara yang kaya dan memiliki kedaulatan. Pasti indah hidup dizaman itu. Tidak ingin bersombong atau rasis, harus diakui bahwa Aceh adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang terakhir menyerah kepada Belanda yakni pada 1904, dan pertama lepas yakni pada tahun 1945 bersama daerah2 lain.
Aku sering browsing dan ingin sekali tahu tentang negeri Brunei. Secara fisik tak jauh beda dengan Aceh. Dan mungkin menurutku antara Brunei dan Aceh tak jauh berbeda. Toh, kami sama-sama memeluk agama Islam. Bukankah sesama Islam bagaikan satu tubuh? Jika salah satu anggotanya kesakitan pasti yang lain juga ikut kesakitan. Jika melihat Brunei sekarang, mengingatkanku dengan Aceh beberapa ratus tahun lalu. Sebuah negeri kecil yang berlandaskan Islam dapat hidup makmur diantara hiruk pikuk akhir dunia. Ada rasa keinginan yang dalam untuk tinggal dan mempunyai rumah disana. Bahkan jika perlu aku berkeluarga dan bekerja di negeri itu. Tidak bermaksud untuk meremehkan negeri sendiri. Semua memang ada disini (Indonesia). Mulai dari kebudayaanya yang kaya, kesenianya, keramahannya, keindahan alamnya, sampai para koruptorpun bergelimpangan dsini. Ada sedikit rasa kecewa dengan negeri yang indah ini. Betapa tidak, sebuah negara kaya yang menyimpan sumber daya alam yang melimpah tapi semua rakyatnya hanya menghasilkan pendapatan sekitar $4000 per kapita. Kemana semua duit itu?? Entahlah. Tak akan habis jika membicarakan negeri yang sedang sakit ini. Semoga Allah segera memberikan seorang pemimpin yang cerdas. Dan ada sebuah harapan kecil, aku ingin sekali tinggal dan menjadi warga negara di negeri kecil itu (Brunei). Semoga harapan ini menjadi sebuah kenyataan.